Minggu, 11 Desember 2011

laporan pendahuluan Halusinasi


1.      Pengertian
A.    Halusinasi adalah salah satu cara respon maladaktif individu yang berada dalam rentang neurobiologis (struart dan Araira, 2001).
B.     Halusinasi adalah penyerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indra sesorang pasien yang terjadi dalam keadaan sadar atau bangun, dasarnya mungkin organik, psikotik ataupun histerik (Maramis, 1994).
C.     Halusinasi adalah suatu penghayatan yang dialami seperti suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimuli ekstern; persepsi palsu (Lubis, 1993).
D.    Jadi halusinasi adalah suatu gangguan pada persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak ada atau tidak nyata.
2.      Jenis Halusinasi
A.    Pendengaran (persentase klien dengan halusinasi jenis ini: 70 %)
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.
B.     Penglihatan (persentase klien dengan halusinasi jenis ini : 20%)
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris,gambar kartun,bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.
C.     Penghidu
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang, atau dimensia.
D.    Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
E.     Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
F.      Halusinasi pengecap (gustatorik)
Biasanya terjadi bersamaan dengan hallusinasi hirup/bau, individu merasa mengecap sesuatu rasa di mulutnya.


Fase-Fase Terjadinya Halusinasi

1.      comforting(ansietas sedang)
Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah, dan takut dan mencoba untuk berfokus pada fikiran yag menyenangkan untuk meredakan ansietas, ansietas masih dapat ditangani(NONPSIKOTIK)
Gejala klien: tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakkan mata yang cepat, respon verbal yang lambat, jika sedang asyik diam dan asyik sendiri.
2.      condeming(ansietas berat)
a.    Hallusinasi menjadi menjijikkan
b.   Pengalaman sensori menjijikan dan menakutkan, Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dari sumber yang di persepsikan, klien mungkin mengalami dipermalukan oleh pengalaman sensori dan menarik diri dari orang lain.(PSIKOTIK RINGAN).
Gejala: meningkatnya tanda-tanda system staraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan denyut nadi, tekanan darah, rentang perhatian menyempit, asyik dengan pengalaman sensori dan menghilangkan kemampuan membedakan hallusinasi dan realita.
3.      controlling(aansietas berat)
a.    pengalaman sensori menjadi berkuasa
b.   klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap hallusinasi tersebut, isi hallusinasi menjadi menarik, klien mungkin mengalami pengalaman kesepian jika sensori hallusinasi berhenti(PSIKOTIK)
Gejala: kemauan dikendalikan oleh hallusinasi, konsentrasi perhatian hanya beberapa detik atau menit, tremor, tidak mampu mematuhi perintah.

4.      conquering(panik)
Umumnya melebur dalam hallusinasi. Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti hallusinasi, hallusinasi berakhir dari beberapa jam atau hari jika tidak ada intervensi terapeutik, perilaku terror akibat panic, potensi sucide, tidak mampu berespon terhadap perintah yang komplek, tidak mampu berespon lebih dari satu orang.
Rentang Respon

Respon Adaptif                                                                Respon Maladaptif


 

·         pikiran logis                             -distorsi                       -gangguan fikir/delusi
·         persepsi akurat                        -fikiran                        -hallusinasi
·         emosi konsisten                       -ilusi                            -sulit berespon
·         pengalaman                             -reaksi emosi berlebih  -emosi
·         perilaku sesuai                         -perilaku aneh              -perilaku disorganisasi
·         berhubungan sosial                  -menarik diri                -isolasi sosial


G.    Tanda dan Gejala
1.      Halusinasi Dengar/suara
a)      Data Subyektif
1)      bicara atau tertawa sendiri
2)      marah-marah tanpa sebab
3)      menyedengkan telinga ke arah tertentu
4)      menutup telinga
b)      Data Obyektif
1)      mendengar suara-suara atau kegaduhan.
2)      mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap.
3)      mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya

2.      Halusinasi Penglihatan
a)      Data Subyektif
1)      menunjuk-nunjuk ke arah tertentu
2)      ketakutan dengan pada sesuatu yang tidak jelas.
b)      Data Obyektif
1)      melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartoon,
2)      melihat hantu atau monster

3.      Halusinasi Penghidu
a)      Data Subyektif
1)      menghidu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu.
2)      menutup hidung.
b)      Data Obyektif
membaui bau-bauan seperti bau darah, urin, feses, kadang-kadang bau itu menyenangkan.


4.      Halusinasi Pengecap
a)      Data Subyektif
sering meludah,muntah
b)      Data Obyektif
merasakan rasa seperti darah, urin atau feses

5.      Halusinasi Perabaan
a)      Data Subyektif
menggaruk-garuk permukaan kulit
b)      Data Obyektif
1)      mengatakan ada serangga di permukaan kulit
2)      merasa seperti tersengat listrik


H.    Penyebab
a)      Faktor Predisposisi
Stuart and Sunden (1998 : 305) mengemukakan faktor predisposisi dari timbulnya halusinasi, antara lain:

1.      Faktor Biologis
a.       abnormalitas otak seperti : lesi pada areo frontal, temporal dan limbic dapat menyebabkan respon neurobiologis
b.      beberapa bahan kimia juga dikaitkan dapat menyebabkan respon neurbiologis misalnya: dopamine neurotransmiter yang berlebihan, ketidakseimbangan antara dopamine neurotransmiter lain dan masalah-masalah pada sistem receptor dopamine.
2.      Faktor sosial Budaya
Stres yang menumpuk, kemiskinan, peperangan, dan kerusuhan, dapat menunjang terjadinya respon neurobiologis yang maladaftive.
3.      Faktor Pikologis
Penolakan dan kekerasan yang dialami klien dalam keluarga dapat menyebabkan timbulnya respon neurobiologis yang maladaftive

b)      Faktor Presipitasi
Stuart and sunden (1998: 310) juga mengemukakan faktor pencetus terjadinya halusinasi antara lain:
1.       Faktor biologis
Gangguan dalam putaran balik otak yang memutar proses informasi dan abnormaltas pada mekanisme pintu masuk dalam otak mengakibatkan ketidakmampuan menghadapi rangsangan. Stres biologis ini dapat menyebabkan respon neurobiologis yang maladaftive.
2.      Faktor Stres dan Lingkungan
Perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan merupakan stressor lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan perilaku. Klien berusaha menyesuaikan diri terhadap stressor lingkungan yang terjadi.
     3.  Faktor Pemicu Gejala
A.    Kesehaan
Gizi yang buruk, kurang tidur, kurang tidur, keletihan, ansietas sedang sampai berat, dan gangguan proses informasi.
B.     Lingkungan
Tekanan dalam penampilan (kehilangan kemandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari), rasa bermusuhan dan lingkungan yang selalu mengkritik, masalah perumahan, gangguan dalam hubungan interpersonal, kesepian (kurang dukungan sosial), tekanan pekerjaan, keterampilan sosial, yang kurang, dan kemiskinan.
C.     Sikap/ perilaku
Konsep diri yang rendah, keputusasaan (kurang percaya diri), kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas, perilaku amuk dan agresif.

I.       Akibat Dari Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi
Adanya gangguan persepsi sensori halusinasi dapat beresiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Kelliat, BA, 1998: 27). Menurut Townsend, M.C, 1998: suatu keadaan dimana seseorang melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik diri sendiri dan orang lain.
Seseorang yang dapat beresiko melakukan perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain dapat menunjukan perilaku:
Data Subjektif
a.       Mengungkapkan, mendengar atau melihat objek yang mengancam
b.      Mengungkapkan persaan takut, cemas, dan khawatir
Data Objektif
a. Wajah tegang, merah
b. Mondar-mandir
c. Mata melotot, rahang mengatup
d. Tangan mengepal
e. Keluar keringat banyak
f. Mata melotot


J.       Pohon Masalah
Resiko Tinggi menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Perubahan persepsi sensori: Halusinasi

Isolasi sosial : menarik diri

Gangguan konsep diri: Harga Diri Rendah
(Pohon masalah Keliat, 1998: 6)

K.    Diagnosis Keperawatan
1.      Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi
2.      Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah
3.      Isolasi Sosial: Menarik Diri













Daftar Pustaka
2.      http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/17/halusinasi/  diakses pada tanggal 11 Oktober 2011
3.      Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
4.      Stuart GW, Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC, 1995
5.      Rasmun (2001). Keperawatan kesehatan mental psikiatri terintegrasi dengan keluarga. Jakarta : Fajar Interpratama
6.      http://keperawatan-gun.blogspot.com/2008/06/askep-dengan-halusinasi.html diakses pada tanggal 11 Oktober 2011




1 komentar:

  1. The Casino City Hotel, Casino and Spa - Mapyro
    Welcome to 강원도 출장마사지 a world at play! Discover and enjoy the best in gaming and entertainment at The Casino 포천 출장샵 City. Get 순천 출장샵 in 경산 출장샵 on the action with 인천광역 출장마사지 live casino games,

    BalasHapus