1.
Pengertian
A. Halusinasi adalah salah satu cara respon maladaktif individu yang
berada dalam rentang neurobiologis (struart dan Araira, 2001).
B. Halusinasi adalah
penyerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indra sesorang pasien yang
terjadi dalam keadaan sadar atau bangun, dasarnya mungkin organik, psikotik
ataupun histerik (Maramis, 1994).
C. Halusinasi adalah suatu
penghayatan yang dialami seperti suatu persepsi melalui panca indra tanpa
stimuli ekstern; persepsi palsu (Lubis, 1993).
D. Jadi halusinasi adalah suatu gangguan pada
persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak ada atau
tidak nyata.
2.
Jenis
Halusinasi
A. Pendengaran (persentase klien dengan
halusinasi jenis ini: 70
%)
Mendengar suara atau kebisingan,
paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai
kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan
lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar
dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu
kadang dapat membahayakan.
B. Penglihatan (persentase klien dengan
halusinasi jenis ini : 20%)
Stimulus visual dalam bentuk kilatan
cahaya, gambar geometris,gambar kartun,bayangan yang rumit atau kompleks.
Bayangan bias menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.
C. Penghidu
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang, atau dimensia.
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang, atau dimensia.
D. Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
E. Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
F. Halusinasi pengecap (gustatorik)
Biasanya terjadi bersamaan dengan hallusinasi
hirup/bau, individu merasa mengecap sesuatu rasa di mulutnya.
Fase-Fase Terjadinya Halusinasi
1. comforting(ansietas sedang)
Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa
bersalah, dan takut dan mencoba untuk berfokus pada fikiran yag menyenangkan
untuk meredakan ansietas, ansietas masih dapat ditangani(NONPSIKOTIK)
Gejala
klien: tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa
suara, pergerakkan mata yang cepat, respon verbal yang lambat, jika sedang
asyik diam dan asyik sendiri.
2. condeming(ansietas berat)
a. Hallusinasi
menjadi menjijikkan
b. Pengalaman
sensori menjijikan dan menakutkan, Klien mulai lepas
kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dari sumber yang di
persepsikan, klien mungkin mengalami dipermalukan oleh pengalaman sensori dan
menarik diri dari orang lain.(PSIKOTIK RINGAN).
Gejala: meningkatnya tanda-tanda system staraf otonom akibat
ansietas seperti peningkatan denyut nadi, tekanan darah, rentang perhatian
menyempit, asyik dengan pengalaman sensori dan menghilangkan kemampuan
membedakan hallusinasi dan realita.
3. controlling(aansietas berat)
a. pengalaman sensori menjadi berkuasa
b. klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap hallusinasi
tersebut, isi hallusinasi menjadi menarik, klien mungkin mengalami pengalaman
kesepian jika sensori hallusinasi berhenti(PSIKOTIK)
Gejala: kemauan dikendalikan oleh hallusinasi, konsentrasi
perhatian hanya beberapa detik atau menit, tremor, tidak mampu mematuhi
perintah.
4. conquering(panik)
Umumnya melebur dalam hallusinasi. Pengalaman sensori menjadi
mengancam jika klien mengikuti hallusinasi, hallusinasi berakhir dari beberapa
jam atau hari jika tidak ada intervensi terapeutik, perilaku terror akibat
panic, potensi sucide, tidak mampu berespon terhadap perintah yang komplek,
tidak mampu berespon lebih dari satu orang.
Rentang Respon
Respon Adaptif Respon
Maladaptif
·
pikiran logis -distorsi -gangguan fikir/delusi
·
persepsi
akurat -fikiran -hallusinasi
·
emosi
konsisten -ilusi -sulit berespon
·
pengalaman -reaksi emosi
berlebih -emosi
·
perilaku
sesuai -perilaku
aneh -perilaku disorganisasi
·
berhubungan
sosial -menarik diri -isolasi sosial
G. Tanda dan Gejala
1. Halusinasi Dengar/suara
a) Data Subyektif
1)
bicara atau tertawa sendiri
2)
marah-marah tanpa sebab
3)
menyedengkan telinga ke arah tertentu
4)
menutup telinga
b) Data Obyektif
1) mendengar suara-suara atau
kegaduhan.
2) mendengar suara yang
mengajak bercakap-cakap.
3) mendengar suara menyuruh
melakukan sesuatu yang berbahaya
2. Halusinasi Penglihatan
a) Data Subyektif
1) menunjuk-nunjuk ke arah
tertentu
2) ketakutan dengan pada
sesuatu yang tidak jelas.
b) Data Obyektif
1) melihat bayangan, sinar,
bentuk geometris, bentuk kartoon,
2) melihat hantu atau monster
3. Halusinasi Penghidu
a) Data Subyektif
1) menghidu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu.
2) menutup hidung.
b) Data Obyektif
membaui
bau-bauan seperti bau darah, urin, feses, kadang-kadang bau itu menyenangkan.
4. Halusinasi Pengecap
a) Data Subyektif
sering
meludah,muntah
b) Data Obyektif
merasakan rasa seperti
darah, urin atau feses
5. Halusinasi Perabaan
a) Data Subyektif
menggaruk-garuk permukaan kulit
b) Data Obyektif
1) mengatakan ada serangga di permukaan kulit
2) merasa seperti tersengat
listrik
H. Penyebab
a) Faktor Predisposisi
Stuart
and Sunden (1998 : 305) mengemukakan faktor predisposisi dari timbulnya
halusinasi, antara lain:
1. Faktor Biologis
a. abnormalitas otak seperti
: lesi pada areo frontal, temporal dan limbic dapat menyebabkan respon
neurobiologis
b. beberapa bahan kimia juga
dikaitkan dapat menyebabkan respon neurbiologis misalnya: dopamine
neurotransmiter yang berlebihan, ketidakseimbangan antara dopamine
neurotransmiter lain dan masalah-masalah pada sistem receptor dopamine.
2. Faktor sosial Budaya
Stres yang menumpuk,
kemiskinan, peperangan, dan kerusuhan, dapat menunjang terjadinya respon
neurobiologis yang maladaftive.
3. Faktor Pikologis
Penolakan dan
kekerasan yang dialami klien dalam keluarga dapat menyebabkan timbulnya respon
neurobiologis yang maladaftive
b) Faktor Presipitasi
Stuart and sunden (1998: 310) juga mengemukakan faktor pencetus
terjadinya halusinasi antara lain:
1.
Faktor biologis
Gangguan dalam putaran balik otak yang memutar proses informasi dan
abnormaltas pada mekanisme pintu masuk dalam otak mengakibatkan ketidakmampuan
menghadapi rangsangan. Stres biologis ini dapat menyebabkan respon neurobiologis
yang maladaftive.
2.
Faktor Stres dan Lingkungan
Perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan merupakan stressor
lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan perilaku. Klien berusaha
menyesuaikan diri terhadap stressor lingkungan yang terjadi.
3.
Faktor Pemicu Gejala
A. Kesehaan
Gizi yang
buruk, kurang tidur, kurang tidur, keletihan, ansietas sedang sampai berat, dan
gangguan proses informasi.
B. Lingkungan
Tekanan dalam penampilan (kehilangan kemandiri dalam melakukan aktivitas
sehari-hari), rasa bermusuhan dan lingkungan yang selalu mengkritik, masalah
perumahan, gangguan dalam hubungan interpersonal, kesepian (kurang dukungan
sosial), tekanan pekerjaan, keterampilan sosial, yang kurang, dan kemiskinan.
C. Sikap/
perilaku
Konsep diri yang rendah, keputusasaan (kurang percaya diri), kehilangan
motivasi untuk melakukan aktivitas, perilaku amuk dan agresif.
I. Akibat Dari Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi
Adanya
gangguan persepsi sensori halusinasi dapat beresiko menciderai diri sendiri,
orang lain dan lingkungan (Kelliat, BA, 1998: 27). Menurut Townsend, M.C, 1998:
suatu keadaan dimana seseorang melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan
secara fisik baik diri sendiri dan orang lain.
Seseorang
yang dapat beresiko melakukan perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang
lain dapat menunjukan perilaku:
Data
Subjektif
a. Mengungkapkan, mendengar atau melihat objek yang mengancam
b. Mengungkapkan persaan takut, cemas, dan khawatir
Data
Objektif
a. Wajah
tegang, merah
b.
Mondar-mandir
c. Mata
melotot, rahang mengatup
d. Tangan
mengepal
e. Keluar
keringat banyak
f. Mata
melotot
J. Pohon Masalah
Gangguan
konsep diri: Harga Diri Rendah
(Pohon masalah Keliat, 1998: 6)
K. Diagnosis Keperawatan
1. Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi
2. Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah
3. Isolasi Sosial: Menarik Diri
Daftar
Pustaka
1. http://jovandc.multiply.com/journal/item/35/HALUSINASI?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem diakses pada
tanggal 11 Oktober 2011
3. Keliat Budi Ana, Proses
Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
4. Stuart GW, Sundeen, Buku
Saku Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC, 1995
5.
Rasmun (2001). Keperawatan kesehatan mental psikiatri
terintegrasi dengan keluarga. Jakarta : Fajar Interpratama
6. http://keperawatan-gun.blogspot.com/2008/06/askep-dengan-halusinasi.html diakses pada tanggal 11
Oktober 2011
The Casino City Hotel, Casino and Spa - Mapyro
BalasHapusWelcome to 강원도 출장마사지 a world at play! Discover and enjoy the best in gaming and entertainment at The Casino 포천 출장샵 City. Get 순천 출장샵 in 경산 출장샵 on the action with 인천광역 출장마사지 live casino games,