Minggu, 11 Desember 2011

laporan pendahuluan isolasi sosial


1.      Pengertian
A.    Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito, 1998 )
B.     Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Towsend,1998)
C.     Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes, 1998).
D.    Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain. (Rawlins, 1993, dikutip Budi Anna Keliat).
E.     Isolasi Sosial adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negatif yang mengancam. Dengan karakteristik : tinggal sendiri dalam ruangan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, menarik diri, kurangnya kontak mata. Ketidak sesuaian atau ketidakmatangan minat dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia. Preokupasi dengan pikirannya sendiri, pengulangan, tindakan yang tidak bermakna. Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan oleh orang lain. Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain, merasa tidak aman ditengah orang banyak. (Mary C. Townsend, Diagnose Kep. Psikiatri, 1998; hal 252).
F.      Jadi Isolasi Sosial adalah




2.      Tanda dan Gejala

Menurut Townsend, M.C (1998:152-153) & Carpenito,L.J (1998: 382) isolasi sosial menarik diri sering ditemukan adanya tanda dan gejala sebagai berikut:

a)      Data Subyektif
Tanda dan gejala pada klien dengan isolasi sosial sebagai berikut:
1)      mengungkapkan perasaan tidak berguna, penolakan oleh lingkungan
2)      mengungkapkan keraguan tentang kemampuan yang dimiliki

b)      Data Obyektif
Tanda dan gejala pada klien dengan isolasi sosial sebagai berikut:
1)      tampak menyendiri dalam ruangan
2)      tidak berkomunikasi, menarik diri
3)      tidak melakukan kontak mata
4)      tampak sedih, afek datar
5)      posisi meringkuk di tempat tidur dengang punggung menghadap ke pintu
6)      adanya perhatian dan tindakan yang tidak sesuai atau imatur dengan perkembangan usianya
7)      kegagalan untuk berinterakasi dengan orang lain didekatnya
8)      kurang aktivitas fisik dan verbal
9)      tidak mampu membuat keputusan dan berkonsentrasi
10)  mengekspresikan perasaan kesepian dan penolakan di wajahnya

3.      Penyebab
a)      Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi penyebab terjadinya perilaku menarik diri (isolasi sosial) adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan merasa tertekan.
b)      Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi (pencetus) terjadinya perilaku menarik diri (isolasi sosial) adalah  dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dan faktor psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan (Stuart and Sundeen, 1995).

4.      Akibat Dari Isolasi Sosial (Menarik Diri)

Perilaku isolasi sosial : menarik diri dapat berisiko terjadinya perubahan persepsi sensori halusinasi (Townsend, M.C, 1998 : 156). Perubahan persepsi sensori halusinasi adalah persepsi sensori yang salah (misalnya tanpa stimulus eksternal) atau persepsi sensori yang tidak sesuai dengan realita/kenyataan seperti melihat bayangan atau mendengarkan suara-suara yang sebenarnya tidak ada (Johnson, B.S, 1995:421). Menurut Maramis (1998:119)
Halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun dari panca indera, di mana orang tersebut sadar dan dalam keadaan terbangun yang dapat disebabkan oleh psikotik, gangguan fungsional, organik atau histerik.
Halusinasi merupakan pengalaman mempersepsikan yang terjadi tanpa adanya stimulus sensori eksternal yang meliputi lima perasaan (pengelihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman, perabaan), akan tetapi yang paling umum adalah halusinasi pendengaran dan halusinasi pendengaran (Boyd, M.A & Nihart, M.A, 1998: 303; Rawlins, R.P & Heacock, P.E, 1988 : 198).
Menurut Carpenito, L.J (1998: 363) perubahan persepsi sensori halusinasi merupakan keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau berisiko mengalami suatu perubahan dalam jumlah, pola atau intepretasi stimulus yang datang.
Sedangkan menurut pendapat lain halusinasi merupakan persepsi sensori yang palsu yang terjadi tanpa adanya stimulus eksternal, yang dibedakan dari distorsi dan ilusi yang merupakan kekeliruan persepsi terhadap stimulus yang nyata dan pasien mengganggap halusinasi sebagai suatu yang nyata (Kusuma, W, 1997 : 284).
Menurut Carpenito, L.J (1998: 363) ; Townsend, M.C (1998: 156); dan Stuart, G.W & Sundeen, S.J (1998: 328-329) perubahan persepsi sensori halusinasi sering ditandai dengan adanya:

\Data subjektif:
a)      tidak mampu mengenal waktu, orang dan tempat
b)      tidak mampu memecahkan masalah
c)      mengungkapkan adanya halusinasi (misalnya mendengar suara-suara atau melihat bayangan)
d)     mengeluh cemas dan khawatir

Data objektif:
a)      apatis dan cenderung menarik diri
b)      tampak gelisah, perubahan perilaku dan pola komunikasi, kadang berhenti berbicara seolah-olah mendengarkan sesuatu
c)      menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara
d)     menyeringai dan tertawa yang tidak sesuai
e)      gerakan mata yang cepat
f)       pikiran yang berubah-rubah dan konsentrasi rendah
g)      respons-respons yang tidak sesuai (tidak mampu berespons terhadap petunjuk yang kompleks.
5.      Pohon Masalah


efek
 

      Defisit Perawatan Diri (DPD)                Halusinasi
Core Problem
 



Isolasi Sosial: Menarik Diri
 



Mekanisme Koping Tidak Efektif
causa
 



Gangguan Konsep Diri: HDR



6.      Diagnosis Keperawatan
a)      Isolasi Sosial: Menarik Diri
b)      Defisit Perawatan Diri
c)      Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi
d)     Gangguan Konsep Diri

7.      FOKUS INTERVENSI
Pasien
SP 1
1. mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien
2. berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
3. berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
4. mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang
5. menganjurkan pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang - bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian

SP 2
1. mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang
3. membantu pasien memasukkan kegiatan berbincang - bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian

SP 3
1. mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. memberikan kesempatan kepada klien berkenalan dengan dua orang atau lebih
3. menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

Keluarga
SP 1
1. mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2. menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial yang dialami pasien beserta proses terjadinya
3. menjelaskan cara - cara merawat pasien isolasi social

SP 2
1. melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan isolasi social
2. melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien isolasi sosial

SP 3
1. membantu keluarga membuat jadual aktivitas dirumah termasuk minum obat ( Discharge planning)
2. menjelaskan follow up pasien setelah pulang


Daftar Pustaka
1.      Budi Anna Keliat. Asuhan Klien Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri. Jakarta : FIK UI. 1999
2.      Carpenito, L.J, (1998). Buku Saku Diagnosa keperawatan (terjemahan), Edisi 8, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
3.      Townsend M. C,  (1998). Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri, Pedoman untuk Pembuatan Rencana Keperawatan , Jakarta : EGC.
4.      http://www.erfanhiyandi.blogspot.com/askep_isolasi sosial.html. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar